Budaya Kritik… Tabu atau Kebiasaan yang Punah?
Pada suatu malam…
A: “Tapi bukan begini caranya ngasih pendapat!”
B: “Sorry, tapi mmg ini cara gw sendiri. Mungkin terkesan kasar ke lo atau lo sendiri ngga biasa. Tapi ini benar-benar penilaian gw secara pribadi..”
A: “Kan ada cara yang lebih baik bukan?!”
B: “Cara seperti apa? Gw cuma maparin pemikiran dan evaluasi gw, dan harusnya lo bisa nerima apa adanya…”
A: “…. tapi lo kan bagian dari ’sistem’?!”
B: ” Iya, memang! Justru dengan mjd bagian sistem gw bisa nilai apa yang benar dan apa yg salah! Apa menjadi sistem berarti harus ‘nggih saja? Gimana lembaga ini bisa berkembang?”
A: “Sorry, gw udah kebawa emosi… Kita shalat dulu deh.. Abis itu kita lanjut lagi bicaranya…”
B: “Sorry, gw harus jemput adik gw… Udah janji…”
A: “Tapi kita belum selesai?!”
B: “Sorry, gw udah janji”
B keluar. Setelah menutup pintu, terdengar bunyi gebrakan meja dari ruangan yang hanya didiami seseorang, yaitu A. Setelah itu, hening meraja.
(Berdasarkan kisah nyata)
Mengenai Kritik
Kritik. Kita sering mendengarnya, sering pula melakukannya. Dan sering pula kita menghadapi orang-orang yang menerima dan menolak untuk dikritik. Dan muncul pertanyaan besar. Seperti apa kritik yang dapat diterima?
Kritik sama halnya dengan proses komunikasi lain. Ada dua unsur, pemberi dan penerima. Komunikasi yang baik adalah saat tersampaikannya maksud dari pemberi ke penerima. Dan saat terjadi hambatan/gangguan/masalah yang menyebabkan maksud tidak tercapai, maka gagallah sebuah proses komunikasi. Begitu pula dengan kritik.
Faktor Internal dan Eksternal
Dalam menyampaikan kritik pun terdapat hal-hal internal dan eksternal mendasar yang dapat menjadikan kritik itu dapat tersampaikan. Dari sisi internal, dapat kita lihat dari hal-hal seperti sepenting apa kritik yang ingin disampaikan dan sebaik apa pemberi kritik mampu menyampaikan kritiknya. Dari sisi eksternal, penerima kritik dapat kita nilai dari sejauh apa kritik itu berarti bagi dirinya, dan juga (terutama) dari sebaik apa penerima kritik dapat menerima maksud apa yang ingin disampaikan. Dua sisi tersebut bagaikan mata koin. Saling bersinggungan dan tak mungkin terlepas. Jika kritik ingin tersampaikan, maka pemberi kritik harus bisa menilai sisi-sisi tersebut.
Kritik sebagai Alat Perubahan
Prof Rianto dari Departemen Farmakologi FKUI pernah menyebutkan untuk membangun budaya kritik dan berdebat. Karena dengan itulah budaya ilmiah dapat terbentuk dan perbaikan-perbaikan dapat dilakukan. Saya sepakat dengan beliau. Kenapa? Karena tanpa mengetahui kesalahan-kesalahan yang ada, musykil perbaikan dapat terjadi. Dan jika tidak terjadi perbaikan, perubahan pun tidak akan pernah terwujud. Budaya ilmiah pun mengamini terjadinya proses kritik dan debat. Seharusnya dalam kehidupan nyata pun terwujud hal-hal tersebut.
Getting Personal?
Kesulitan utama dari membangun budaya kritik adalah karena memang masyarakat kita sangat-sangat menghargai persatuan dan kesatuan. Dan kita adalah masyarakat yang mengagung-agungkan tepo seliro. Jadilah kita sangat sulit dalam memberikan pendapat dan terlebih-lebih dalam berkritik. Zaman Orba telah membuktikan itu dimana banyak orang-orang yang terlalu vokal dibungkamkan oleh pemerintah. Dan jadilah diam justru menjadi budaya kita. Belum lagi jika konflik-konflik personal menambah bumbu perbedaan pendapat. Jadilah budaya kritik menjadi sesuatu yang langka di masyarakat negara kita, Indonesia.
Tabu atau Kebiasaan yang punah?
Contoh kasus diatas adalah hal yang dapat kita temui sehari-hari. A menganggap kritik tidak dapat (tidak boleh-red) dilakukan karena ’sistem’ tidak menghendaki segala macam kritik. B pun juga memiliki kesalahan karena mengkomunikasikan tidak sesuai dengan ’selera’ A. Tapi apa benar kritik harus mengikuti selera yang ada?
Jadi, kritik adalah sebuah hal tabu atau kebiasaan yang telah lama hilang? Keduanya tidak sepenuhnya benar, karena intinya kritik bukan sebuah budaya di negara ini. Kritik pun menjadi sebuah hal yang tabu, dan kritik pun menjadi sesuatu yang tidak biasa (asing) dan tanpa disadari akan punah perlahan-lahan. Lalu bagaimana solusinya? Budayakan saja kritik dalam keseharian kita, dan biarkan kita terus melatih diri untuk membuka telinga, pikiran, dan hati terhadap segala macam kritik yang ada. Mudah ‘kan?

Sangat menarik Rey! Ada pertanyaan yang pernah terpintas. Tentang ‘getting personal’.
Apakah ’saat evaluasi ini’ tepat untuk melontarkan kritik saya? Di saat saya tidak yakin saya tidak akan membuat si calon penerima kritik merasa malu di depan banyak orang yang kemudian hanya membuatnya membela diri. Di lain pihak, yang paling membutuhkan evaluasi adalah pihak selain si calon penerima kritik.
Haruskah saya menyampaikannya secara pribadi ke calon penerima kritik untuk menghindari pembelaan yang tidak perlu, atau diam dan percaya pada pihak lainnya bahwa mereka juga sudah mengerti dan mengambil pelajaran daripadanya?
Baikkah saya lontarkan di depan banyak orang dengan kemungkinan melukai si calon penerima kritik dan membiarkan pesan asli tak tersampaikan?
Haruskah saya menggunakan kata-kata yang ‘memutar’ (seperti kebudayaan Jepang) untuk mencegah luka dan percaya pesan asli akan tersampaikan?
Keraguan ini muncul disaat diri tak terbiasa.. Mari membiasakan diri.. Melatih diri untuk menerima, lalu tahu cara untuk memberi..
wah banyak juga pertanyaannya sar… hehe.
dicoba untuk dijawab dengan point-point deh.
1. saat yang tepat untuk memberikan kritik itu menurut gw ngga tentu. Di satu waktu kita perlu menyiapkan diri untuk mengkritik, entah itu menyiapkan isi dari kritik atau tata bahasa dari kritik. Tapi di lain waktu ada kalanya kita mesti spontan untuk memberikan kritik (tanpa persiapan). Nah, menurut gw seseorang bisa menjadi kritikus yang baik jika ia telah menjadi komunikator yang baik. Memang kita mesti memikirkan situasi dan kondisi saat akan mengkritik, tapi itu dapat ditopang dengan kemampuan komunikasi yang baik di mana kita bisa leluasa untuk ber’bicara’ kapan pun di mana pun.
2. kritik secara terang-terangan maupun diam-diaman itu punya tujuan yang berbeda menurut gw. Diam-diaman mungkin bermanfaat jika kritik kita bertujuan untuk memperbaiki sikap salah seorang sahabat kita, namun akan kebalikannya jika kita mengkritiknya terang-terangan. Kritik terang-terangan mungkin lebih bermanfaat untuk isu atau masalah yang lebih luas pengaruhnya, atau jika yang dikritik masih ‘bebal’ juga telinganya, hehe. Contohnya demonstrasi kali ya. Yah, kembali ke tujuan sih.
3. Bisa aja! hehe.. tapi siap-siap saja si calon penerima kritik akan mendapat bad image dari orang-orang sekitarnya. Dan kalo salah-salah ucapan dari kita, bahkan justru kita yang dapat bad image. Tapi esensi kritik tetap harus menyampaikan pesan aslinya.
4. Budaya berbeda tentu pendekatannya berbeda juga. Di Jepang tentu berbeda dengan di Indonesia. Tapi menurut gw itu ngga masalah selama kemampuan komunikasi kita mumpuni dan adaptif dengan budaya yang berbeda.
Yah, itu jawaban dan opini gw.
“Budaya Kritik⦠Tabu atau Kebiasaan yang Punah?”
kisah yg satu ini , kayaknya gw tahu dah siapa A dan siapa B.. hahahaha..
han, ada yg dipelintir tuh disana.. hahaha….
kisah klasik kita, dimana setiap perbedaan harusnya tidak menjadi laknat, tapi menjadi rahmat bagi kita semua..
lain kali kita saling berdiskusi ria ya.. tapi jgn kabur ya… hahahaha..