Gadis yang Bernyanyi di Ujung Hari
Tak dapat kulupakan kenangan masa kecilku tentang gadis yang bernyanyi di ujung hari. Di saat sore hari tiba, dan orang-orang pulang ke rumah, maka gadis itu pasti muncul di tempat biasanya ada. Bukan satu keanehan pula jika ia hanya muncul di depan sebuah taman yang ramai dikunjungi sore hari, karena hanya itulah tempat dia biasanya ada. Orang akan maklum bukan kalau seseorang muncul tiap hari di suatu tempat? Rasanya itu bukan keanehan. Yang aneh adalah gadis itu bernyanyi tiap hari. Ya, gadis itu bernyanyi.
Tiap kali gadis itu bernyanyi, orang-orang akan berhenti sejenak dari aktivitasnya untuk mendengarkannya. Entah berhenti lima, sepuluh menit. Bahkan berhenti hingga gadis itu selesai bernyanyi. Aku yang hanya seorang anak kecil yang sedang bermain di taman pun ikut mendengarkannya. Dan bisa dibilang aku menjadi salah satu pendengar setianya yang tiap hari menunggu dia bernyanyi. Tidak ada rasa bosan mendengar nyanyiannya tiap meski lagu-lagu yang dinyanyikannya hanya lagu-lagu daerah atau lagu anak-anak yang pasti kudengar tiap kali pelajaran kesenian di sekolah atau waktu taman kanak-kanak dulu.
Lagu-lagu yang dinyanyikan gadis itu pasti tak jauh-jauh dari lagu tentang bangsa ini seperti Tanah Air, Garuda Pancasila, hingga Rayuan Pulau Kelapa, juga yang lagu anak-anak yang berisi keriangan dan kegembiraan macam Paman Datang, Kakaktua, dan Topi Saya Bundar. Tak dapat kulupakan juga lagu-lagu daerah macam O Ina Ni Keke yang disenandungkannya. Tiap bernyanyi, pasti tidak ada orang yang ikut bernyanyi dengannya. Dia hanya bernyanyi sendiri. Dan penonton di sekitarnya hanya mendengar dengan khidmat, seolah-olah terbius oleh nyanyiannya. Suaranya biasa-biasa saja. Biasa saja seperti anak sekolahan yang disuruh gurunya bernyanyi di depan kelas. Tapi ada sesuatu yang menyebabkan orang-orang berhenti untuk mendengarkan ia bernyanyi. Ada sebuah ketulusan dalam nyanyiannya, kesederhanaan yang biasa ada pada anak kecil. Ya, mungkin itu yang membuat orang-orang berhenti untuk mendengarnya.
Begitulah gadis itu setia bernyanyi di ujung hari. Selama seminggu, sebulan, hingga tak terasa telah setahun dia bernyanyi. Orang-orang telah menganggapnya sebagai sebuah rutinitas sore hari dan mereka terhibur olehnya. Termasuk pula aku.
Hingga suatu hari, gadis itu tidak muncul untuk bernyanyi di ujung hari. Orang-orang bertanya kemana gerangan gadis itu pergi. Seminggu, sebulan, berlalu, tapi tidak ada satupun orang yang tahu kemana gadis itu pergi. Muncul berita-berita miring mengenai kepergiannya. Ada yang bilang gadis itu telah dibawa pergi ibunya ke sebuah kota di seberang pulau, ada juga yang bilang dia jatuh sakit sehingga tidak bisa lagi bernyanyi. Bahkan ada berita yang saking miringnya mengatakan gadis itu diculik oleh sekawanan orang dan dibunuh karena tidak ada yang menebusnya. Edan!
Setahun berlalu dan gadis itu tidak pernah kembali untuk bernyanyi di ujung hari. Orang-orang pun tidak lagi membicarakannya dan menganggapnya sebagai sebuah cerita lalu. Dan mereka pun lambat laun melupakannya.
Justru aku yang hanya seorang anak kecil saat itu entah kenapa tidak dapat lupa akan gadis tersebut. Bagaimana wajahnya? Pakaian yang sering dikenakannya? Atau bahkan nada suaranya saat bernyanyi? Semua masih terbayang olehku. Mungkin karena aku yang menganggapnya sebagai seorang peri yang turun dari nirwana untuk bernyanyi membuat ingatanku akan gadis itu tetap ada. Ah! Aku dan khayalan masa kecilku.
Tak terasa itu adalah kenanganku akan 25 tahun yang lampau. Semua terasa bangkit kembali menjadi kenyataan. Aku tersenyum, berpikir kalau sekarang mana ada yang menyanyikan lagu-lagu gadis tersebut lagi. Lagu daerah, lagu anak-anak, atau lagu kebangsaan negara ini. Ah, mungkin memang gadis itu adalah peri dari nirwana yang tiba-tiba menghilang karena mesti kembali. Datang tak berapa lama untuk mengingatkan lagi lagu-lagu yang sebenarnya kita punya.
Di ujung hari itu, mobilku berhenti tepat di samping taman tempat gadis itu pernah biasa bernyanyi. Lampu lalu lintas menyala hijau. Segera aku menginjak gas menyusuri jalan raya, ditemani Alicia Keys yang menyanyikan Teenage Love Affair pada salah satu stasiun radio.
Setelah kupikir-pikir, gadis itu pastilah peri!

Tinggalkan Balasan