Waktu Berhenti di Saat Dia Hadir
“Kamu dimana? Aku sendiri di rumah sakit. Kamu ngga datang?”
Demikian tulisan yang tertera di layar HP-ku. Entah sudah berapa kali SMS dengan isi seperti itu masuk ke inbox. Dan entah sudah berapa kali aku tidak membalas SMS tersebut. Waktu terasa berhenti saat aku membaca SMS tersebut.
Sebenarnya aku bisa saja membalas SMS tersebut. Seperti di saat pertama-tama kali aku menerimanya. Membalasnya dengan penuh pengharapan dan antusiasme. Mengiyakan permohonan untuk bertemu dengannya dan berlanjut dengan kehadiran aku di kamar tempat dia di rawat di salah satu rumah sakit ternama di bilangan Kuningan.
Tapi entah kenapa kali ini aku tidak segera bergeming saat menerima SMS-nya. Entah kenapa jari-jariku terasa begitu berat memencet tuts HP-ku.
Sebulan sebelumnya, pukul 09.15, Ruang Kuliah Ilmu Penyakit Dalam, FKUI/RSCM, Jakarta
Hari itu jadwal aku sebagai mahasiswa kedokteran penuh diisi dengan kuliah-kuliah pengantar. Sebagai koass bagian Ilmu Penyakit Dalam, sudah menjadi kewajiban di awal kepaniteraan untuk mengikuti kuliah-kuliah umum mengenai penyakit-penyakit yang kelak ditemui nantinya saat menjadi dokter umum. Termasuk juga penyakit-penyakit yang jarang seperti penyakit keganasan. Hari itu penyakit keganasan darah termasuk yang dikuliahkan.
“Jadi dapat kita lihat bahwa leukemia dapat terjadi pada siapa saja. Anda, saya, saudara-saudara kita dapat terkena leukemia. Dan dengan prognosis pasien yang buruk, maka tugas Anda-lah kelak sebagai dokter umum untuk mendiagnosis dini pasien-pasien leukemia,” demikian ucap salah seorang konsulen saat mengakhiri kuliahnya mengenai keganasan hematologi.
Hatiku trenyuh. Saat dihadapkan dengan data statistik, tanda dan gejala, serta kemungkinan hidup 5 tahun pasien leukemia, sebuah pukulan bagai menghujam ulu hati. Membuat sesak dan melemaskan otot-otot sekujur tubuhku. Seluruh tubuhku trenyuh.
Langsung saja kukeluarkan HP-ku dan segera aku mengetik SMS:
“Kamu gimana? Hari ini enakan? Eh, gw ingin ke tempat kamu sore ini… Bisa?”
Kini, pukul 14.00, Kafetaria FKUI
Hari ini terasa begitu berat. Penuh beban yang membuat aku begitu jengah dengan kesibukan-kesibukan stase Ilmu Penyakit Dalam. Tugas makalah pribadi, follow-up pasien, serta ujian yang menanti satu minggu ke depan membuat aku melupakan segala kesibukan di luar aktivitas akademik.
Dan itu semakin berat saat SMS dia muncul di layar HP-ku. SMS yang menanyakan apakah aku akan datang untuk menemui dia.
Dia…
Dia adalah teman lamaku. Sejak SMP kami telah bersahabat baik. Tempat tinggalnya berdekatan dengan tempat tinggalku sehingga tidak sering kami pulang bersama. Ini terus berlanjut hingga SMA karena tanpa disangka kami diterima di sekolah yang sama. Kedekatan kami berdua sering mengundang tanda tanya di antara teman-temanku. Padahal kami tidak lebih hanya berteman dekat. Namun tidak kupungkiri perhatianku yang lebih padanya sebagai seorang sahabat lama.
Aku tertegun sekian lama mengingat saat-saat SMP dan SMA bersamanya. Setelah lulus SMA, nasib membawaku untuk menjadi dokter. Aku diterima di FKUI, salah satu fakultas kedokteran ternama di Indonesia. Memang dari kecil aku bercita-cita menjadi dokter, dan aku sangat bersyukur bisa diterima kampus ini. Sedangkan temanku mengambil jurusan teknik informatika di salah satu universitas swasta di Jakarta. Meski kami tidak bersama lagi, kami masih sering berhubungan via SMS atau telepon dan kerap bertemu jika ada acara bersama teman-teman SMP dan SMA. Bisa dibilang kami cukup aktif berkomunikasi meski jarak memisahkan.
Hingga beberapa waktu lalu, dia divonis menderita leukemia. Perhatianku menjadi kembali lebih terhadapnya. Apalagi sebagai mahasiswa kedokteran, aku mengerti bagaimana prognosis dan 5-year survival rate pasien leukemia. Buruk. Dan datanglah saat ini, dimana aku tak serta merta langsung membalas SMS-nya.
Waktu terasa berhenti di saat aku mengingat dia hadir dan ada. Dan jari-jariku seperti membatu. Aku tersentuh oleh keadaannya sekarang. Aku terbawa oleh kondisi penyakitnya hingga aku takut. Takut kehilangannya. Takut akan ketiadaannya. Aku takut kehilangannya maka aku tidak membalas SMS dan menyertainya di saat dia perlu. Sungguh aneh rasa takutku ini.
Tapi aku tiba-tiba tersadar akan satu hal. Waktu akan terus menerus berhenti jika aku tidak berada disisinya di saat kondisi terburuknya. Di saat dia mungkin sedang berada di akhir waktunya. Aku takut akan hal itu. Dan aku tak akan berhenti di situ, karena aku percaya waktu akan terus bergulir jika aku dengan sepenuh hati menyertainya. Dan aku pun mulai mengetik:
“Iya, maaf ngga balas SMS-mu belakangan… Nanti gw mau datang ke RS. Dan gw ingin bicara, ttg perasaan gw sebenarnya…”
Di saat SMS terkirim, aku merasakan kelegaan yang sangat. Bahwa aku tetap memberikannya harapan, dan aku memberikan ruang kejujuran bagiku atas perasaan yang sebenarnya telah lama ada.

hee numpang komen yah pak, hehehe
seperti cerita sungguhan rey! soalnya tokohnya mirip lo (koas)
aku terharuu huhuhu karena endingnya udah bisa ditebak kl ya bakal sedih. tapi cowoknya kok agak cuek sih? masa lg sakit didiemin, hehehe
ada film yg mirip ini, tentang si cewek yg mengidap leukimia juga
setelah meninggal, si cowok (dokter bow) sampe ga nikah2 krn msh terkenang juga hehehe
yah akhirnya sih bangkit juga
kl cerita yg ini gimana rey?
haha.. yah, namanya juga koass: sibuk.. wah gw ngga tahu film itu tuh.. karena cerpen ya jadi dibuat gantung, kelanjutannya silakan dipikirkan masing-masing..
eh,ternyata pas dibaca ulang lagi ga jelas yg mana cewek yg mana cowok, krn lo yg buat jd gw anggap si koas itulah sang cowok, hehehehe
sibuk sampe bales sms aja ga bisa?? keterlaluan, padahal sahabat lama ckckck
kl gw yg jadi si penderita pasti bakal tambah depresi dan matinya cepet (ups kasar nih) hehehe
*namanya jg komen
sedih bgt kak.T~T
thank you for reading! cuma iseng-iseng aja sih sebenarnya.. :p
ini true story apa rekaan aja rey?
what a story.. detik menunggu ajal..