Pernahkah kita merasa beku akan apa yang kita hadapi di kehidupan sehari-hari? Ataukah sekedar menyadari pengulangan-pengulangan yang terjadi di romantika dunia ini, dan merasakan kehidupan hanya sebuah garis statis dan lurus yang berujung pada awal yang sama? Dan tanpa disadari kita pun turut menjadi pion-pion yang mengulang kehidupan ini (entah kemenangan, kekalahan, kebaikan, kebenaran, maupun kesalahan)?
Menyadari hal-hal itu, kitapun mencoba mencari pelampiasan atas kebekuan itu. Entah dengan mencoba merubahnya ataupun membiarkan kebekuan itu menjadi semakin beku. Merubah dengan arti kata mencoba menjadikan hidup ini ”lebih hidup” dan mencari kurva dari sebuah garis statis dan lurus dengan harapan mencapai sebuah awal yang baru dan akhir sebuah kebekuan. Atau membiarkan kebekuan dengan menenggelamkan diri dan pemikiran kepada kehidupan yang yang terus berputar bagai roda tanpa menyadari sejauh apa perjalanan yang telah dilalui roda tersebut. Mungkinkah?
Ada beberapa cara yang nyata dan terbukti menjadi first line dari sebuah perubahan. Salah satu cara tersebut adalah dengan menulis. Menulis bisa dibilang sebagai gerbang utama yang terbuka lebar untuk melepas segala hal yang ada pada pemikiran seseorang. Tercatat pada sejarah bahwa perubahan-perubahan besar di dunia berawal dari tulisan. Adolf Hitler dengan Mein Kampf-nya. RA Kartini dengan Habis Gelap Terbitlah Terang-nya. Al-Ghazali dengan Ihya Ulumuddin-nya. Ki Hajar dengan Als Ik Nederlander Was-nya. Dan lain-lain yang namanya pantas untuk digoreskan dengan tinta emas peradaban dunia.
Saya suka menganalogikan menulis bagaikan sebuah usaha perkilangan minyak bumi off-shore yang mencoba menggali bumi untuk mendapatkan minyak bumi. Bayangkan minyak bumi sebagai sebuah endapan hasil dari proses pemikiran dan pengalaman yang berlangsung hingga kini dan bumi yang kita gali adalah proses yang mesti kita lalui saat kita menulis. Dan off-shore adalah tak lain adalah saat kita memegang pena atau memencet tuts keyboard, siap untuk menggali dalam dan luasnya pemikiran kita. Siap untuk melepaskan isi bumi berupa minyak bumi ke alam bebas. Siap untuk melepaskan akal pikiran dalam benak kita ke dunia nyata. Dan menjadikannya sebagai titik awal sebuah perubahan. A first step for a chain reaction that will change the world, so that the world will never ever be the same again.
Jadi, siapkah kita untuk melepaskan diri dari kebekuan kehidupan dunia ini? Menjadi bagian dari perubahan besar yang dirancang Sang Arsitek Kehidupan? Ataukah kita hanya menjadi orang-orang yang meneruskan garis statis-lurus kehidupan dengan melupakan segala proses yang bermakna bagi berkembangnya masing-masing diri kita?
Maka menulis adalah awalan yang baik untuk itu. Dan tulisan adalah produk nyatanya. Jadikanlah menulis sebagai awal dari tindakan nyata sebuah perubahan nyata. Sebuah gairah bagi kehidupan yang beku ini. Mari Membaca-Berpikir-Bermimpi-Menulis-Bertindak!
Jakarta, 30 Juni 2007, 07:17

Komentar Terakhir