Hati yang Gelap

•Selasa, 23 Juni 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Bagaikan lubang hitam hatiku menghisap
segala materi-materi yang bertebaran di muka bumi
menghilangkan segala kehidupan dan hidup itu sendiri
mematikan penciptaan dan regenerasi

Bagaikan palung di lautan hatiku memendam
kapal-kapal karam yang dulu gagah melaut
di mana ikan-ikan aneh hidup
memakan sisa-sisa kehidupan kapal-kapal tersebut

Bagaikan malam yang kelam hatiku mengusik
para manusia yang takut akan cahaya
gelisah akan apa yang ada di balik kegelapan
bersujud akan apa yang bernama kematian

O, Mephistopheles, Lucifer, dan Nosferatu,
kalian berada sejengkal dari kudukku
menari, tertawa, dan bernyanyi
dengan irama melankoli

Jadikan ini selamat tinggalku
akan mentari
akan kicau burung di pagi hari
akan senyuman

Dan biarkan hati ini gelap
yang menghitam bukan karena dosa
yang mati bukan karena dicabut Izrail
namun tersadar karena dimana kegelapan itu ada
dia hidup

Counting Days

•Minggu, 22 Maret 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

The days went by, passes without our conscious
We feel the laughter, glory, and joy
As we cradle through the misery, sadness, and loss

And then here we are
Standing at the edge of conscience
or even at the border of madness

Prepare to deal a real life, real world
Full of plans to be written in the current changes of the history
Fearful yet standing tall against the future

Here we are now, for here we are then…

Waktu Berhenti di Saat Dia Hadir

•Kamis, 1 Januari 2009 • 6 Komentar

“Kamu dimana? Aku sendiri di rumah sakit. Kamu ngga datang?”
Demikian tulisan yang tertera di layar HP-ku. Entah sudah berapa kali SMS dengan isi seperti itu masuk ke inbox. Dan entah sudah berapa kali aku tidak membalas SMS tersebut. Waktu terasa berhenti saat aku membaca SMS tersebut.
Sebenarnya aku bisa saja membalas SMS tersebut. Seperti di saat pertama-tama kali aku menerimanya. Membalasnya dengan penuh pengharapan dan antusiasme. Mengiyakan permohonan untuk bertemu dengannya dan berlanjut dengan kehadiran aku di kamar tempat dia di rawat di salah satu rumah sakit ternama di bilangan Kuningan.

Tapi entah kenapa kali ini aku tidak segera bergeming saat menerima SMS-nya. Entah kenapa jari-jariku terasa begitu berat memencet tuts HP-ku.

Sebulan sebelumnya, pukul 09.15, Ruang Kuliah Ilmu Penyakit Dalam, FKUI/RSCM, Jakarta

Hari itu jadwal aku sebagai mahasiswa kedokteran penuh diisi dengan kuliah-kuliah pengantar. Sebagai koass bagian Ilmu Penyakit Dalam, sudah menjadi kewajiban di awal kepaniteraan untuk mengikuti kuliah-kuliah umum mengenai penyakit-penyakit yang kelak ditemui nantinya saat menjadi dokter umum. Termasuk juga penyakit-penyakit yang jarang seperti penyakit keganasan. Hari itu penyakit keganasan darah termasuk yang dikuliahkan.
“Jadi dapat kita lihat bahwa leukemia dapat terjadi pada siapa saja. Anda, saya, saudara-saudara kita dapat terkena leukemia. Dan dengan prognosis pasien yang buruk, maka tugas Anda-lah kelak sebagai dokter umum untuk mendiagnosis dini pasien-pasien leukemia,” demikian ucap salah seorang konsulen saat mengakhiri kuliahnya mengenai keganasan hematologi.
Hatiku trenyuh. Saat dihadapkan dengan data statistik, tanda dan gejala, serta kemungkinan hidup 5 tahun pasien leukemia, sebuah pukulan bagai menghujam ulu hati. Membuat sesak dan melemaskan otot-otot sekujur tubuhku. Seluruh tubuhku trenyuh.
Langsung saja kukeluarkan HP-ku dan segera aku mengetik SMS:

“Kamu gimana? Hari ini enakan? Eh, gw ingin ke tempat kamu sore ini… Bisa?”

Kini, pukul 14.00, Kafetaria FKUI

Hari ini terasa begitu berat. Penuh beban yang membuat aku begitu jengah dengan kesibukan-kesibukan stase Ilmu Penyakit Dalam. Tugas makalah pribadi, follow-up pasien, serta ujian yang menanti satu minggu ke depan membuat aku melupakan segala kesibukan di luar aktivitas akademik.
Dan itu semakin berat saat SMS dia muncul di layar HP-ku. SMS yang menanyakan apakah aku akan datang untuk menemui dia.
Dia…
Dia adalah teman lamaku. Sejak SMP kami telah bersahabat baik. Tempat tinggalnya berdekatan dengan tempat tinggalku sehingga tidak sering kami pulang bersama. Ini terus berlanjut hingga SMA karena tanpa disangka kami diterima di sekolah yang sama. Kedekatan kami berdua sering mengundang tanda tanya di antara teman-temanku. Padahal kami tidak lebih hanya berteman dekat. Namun tidak kupungkiri perhatianku yang lebih padanya sebagai seorang sahabat lama.
Aku tertegun sekian lama mengingat saat-saat SMP dan SMA bersamanya. Setelah lulus SMA, nasib membawaku untuk menjadi dokter. Aku diterima di FKUI, salah satu fakultas kedokteran ternama di Indonesia. Memang dari kecil aku bercita-cita menjadi dokter, dan aku sangat bersyukur bisa diterima kampus ini. Sedangkan temanku mengambil jurusan teknik informatika di salah satu universitas swasta di Jakarta. Meski kami tidak bersama lagi, kami masih sering berhubungan via SMS atau telepon dan kerap bertemu jika ada acara bersama teman-teman SMP dan SMA. Bisa dibilang kami cukup aktif berkomunikasi meski jarak memisahkan.
Hingga beberapa waktu lalu, dia divonis menderita leukemia. Perhatianku menjadi kembali lebih terhadapnya. Apalagi sebagai mahasiswa kedokteran, aku mengerti bagaimana prognosis dan 5-year survival rate pasien leukemia. Buruk. Dan datanglah saat ini, dimana aku tak serta merta langsung membalas SMS-nya.
Waktu terasa berhenti di saat aku mengingat dia hadir dan ada. Dan jari-jariku seperti membatu. Aku tersentuh oleh keadaannya sekarang. Aku terbawa oleh kondisi penyakitnya hingga aku takut. Takut kehilangannya. Takut akan ketiadaannya. Aku takut kehilangannya maka aku tidak membalas SMS dan menyertainya di saat dia perlu. Sungguh aneh rasa takutku ini.
Tapi aku tiba-tiba tersadar akan satu hal. Waktu akan terus menerus berhenti jika aku tidak berada disisinya di saat kondisi terburuknya. Di saat dia mungkin sedang berada di akhir waktunya. Aku takut akan hal itu. Dan aku tak akan berhenti di situ, karena aku percaya waktu akan terus bergulir jika aku dengan sepenuh hati menyertainya. Dan aku pun mulai mengetik:
“Iya, maaf ngga balas SMS-mu belakangan… Nanti gw mau datang ke RS. Dan gw ingin bicara, ttg perasaan gw sebenarnya…”
Di saat SMS terkirim, aku merasakan kelegaan yang sangat. Bahwa aku tetap memberikannya harapan, dan aku memberikan ruang kejujuran bagiku atas perasaan yang sebenarnya telah lama ada.

Memaknai Dia

•Selasa, 23 September 2008 • 1 Komentar

Tuhan ada karena memang Dia ada
Dia menciptakan maka Dia ada
Dia menghancurkan maka Dia tetap ada

Dia tidak butuh kita karena kita memang berasal dari tiada
Dan disaat Dia tiada di kita, maka tiadalah jiwa raga kita
Karena kita sendirilah yang meniadakan Dia di saat Dia memang benar dan telah ada

Tuhan bisa ada, bisa juga tiada
Dan dengan mengatakan Dia ada, maka jadilah kita ada
Karena pada dasarnya Dia yang menjadikan ada dan tiada

Pada Suatu Waktu di Banten Selatan

•Kamis, 21 Agustus 2008 • 1 Komentar

Seorang lelaki meratapi anak bangsanya yang tertindas di tanah darah mereka sendiri
Waktu siang mereka merangkak dalam kegelapan lubang-lubang galian
Pada malam mereka tidur berselimutkan karung goni dan bertemankan tungau
Dan di akhir, mereka meregang nyawa dalam rengkuhan kolera, disentri, dan malaria

Ia meneriakkan keadilan!
Akan perlu adanya jaminan pendidikan dan kesehatan bagi mereka
Ia meneriakkan kenyataan!
Bahwa upah mereka pun tak cukup untuk membeli beras sehari
Ia meneriakkan kesetaraan!
Betapa mereka bukanlah binatang yang dapat dipecut, diludahi, dan diinjak

Di barisan terdepan ia melawan penjajahan manusia dan alam yang sewenang-wenang
Menggelorakan semangat untuk bangkit dan melawan maling di negeri mereka sendiri
Mengingatkan bahwa sebuah kata bernama perjuangan tak akan pernah berhenti hingga ajal membawa mereka ke liang kubur

Di antara batu karang yang tinggi menjulang dan pasir yang luas terhampar
Berhadapan dengan ombak pantai selatan yang ganas menggulung
Ia pernah ada,
Pada suatu waktu di Banten Selatan…

Gadis yang Bernyanyi di Ujung Hari

•Senin, 14 Juli 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Tak dapat kulupakan kenangan masa kecilku tentang gadis yang bernyanyi di ujung hari. Di saat sore hari tiba, dan orang-orang pulang ke rumah, maka gadis itu pasti muncul di tempat biasanya ada. Bukan satu keanehan pula jika ia hanya muncul di depan sebuah taman yang ramai dikunjungi sore hari,  karena hanya itulah tempat dia biasanya ada. Orang akan maklum bukan kalau seseorang muncul tiap hari di suatu tempat? Rasanya itu bukan keanehan. Yang aneh adalah gadis itu bernyanyi tiap hari. Ya, gadis itu bernyanyi.

Tiap kali gadis itu bernyanyi, orang-orang akan berhenti sejenak dari aktivitasnya untuk mendengarkannya. Entah berhenti lima, sepuluh menit. Bahkan berhenti hingga gadis itu selesai bernyanyi.  Aku yang hanya seorang anak kecil yang sedang bermain di taman pun ikut mendengarkannya. Dan bisa dibilang aku menjadi salah satu pendengar setianya yang tiap hari menunggu dia bernyanyi. Tidak ada rasa bosan mendengar nyanyiannya tiap meski lagu-lagu yang dinyanyikannya hanya lagu-lagu daerah atau lagu anak-anak yang pasti kudengar tiap kali pelajaran kesenian di sekolah atau waktu taman kanak-kanak dulu.

Lagu-lagu yang dinyanyikan gadis itu pasti tak  jauh-jauh dari lagu tentang bangsa ini seperti Tanah Air, Garuda Pancasila, hingga Rayuan Pulau Kelapa, juga yang lagu anak-anak yang berisi keriangan dan kegembiraan macam Paman Datang, Kakaktua, dan Topi Saya Bundar. Tak dapat kulupakan juga lagu-lagu daerah macam O Ina Ni Keke yang disenandungkannya. Tiap bernyanyi, pasti tidak ada orang yang ikut bernyanyi dengannya. Dia hanya bernyanyi sendiri. Dan penonton di sekitarnya hanya mendengar dengan khidmat, seolah-olah terbius oleh nyanyiannya. Suaranya biasa-biasa saja. Biasa saja seperti anak sekolahan yang disuruh gurunya bernyanyi di depan kelas. Tapi ada sesuatu yang menyebabkan orang-orang berhenti untuk mendengarkan ia bernyanyi. Ada sebuah ketulusan dalam nyanyiannya, kesederhanaan yang biasa ada pada anak kecil. Ya, mungkin itu yang membuat orang-orang berhenti untuk mendengarnya.

Begitulah gadis itu setia bernyanyi di ujung hari. Selama seminggu, sebulan, hingga tak terasa telah setahun dia bernyanyi. Orang-orang telah menganggapnya sebagai sebuah rutinitas sore hari dan mereka terhibur olehnya. Termasuk pula aku.

Hingga suatu hari, gadis itu tidak muncul untuk bernyanyi di ujung hari. Orang-orang bertanya kemana gerangan gadis itu pergi. Seminggu, sebulan, berlalu, tapi tidak ada satupun orang yang tahu kemana gadis itu pergi. Muncul berita-berita miring mengenai kepergiannya. Ada yang bilang gadis itu telah dibawa pergi ibunya ke sebuah kota di seberang pulau, ada juga yang bilang dia jatuh sakit sehingga tidak bisa lagi bernyanyi. Bahkan ada berita yang saking miringnya mengatakan gadis itu diculik oleh sekawanan orang dan dibunuh karena tidak ada yang menebusnya. Edan!

Setahun berlalu dan gadis itu tidak pernah kembali untuk bernyanyi di ujung hari. Orang-orang pun tidak lagi membicarakannya dan menganggapnya sebagai sebuah cerita lalu. Dan mereka pun lambat laun melupakannya.

Justru aku yang hanya seorang anak kecil saat itu entah kenapa tidak dapat lupa akan gadis tersebut. Bagaimana wajahnya? Pakaian yang sering dikenakannya? Atau bahkan nada suaranya saat bernyanyi? Semua masih terbayang olehku. Mungkin karena aku yang menganggapnya sebagai seorang peri yang turun dari nirwana untuk bernyanyi membuat ingatanku akan gadis itu tetap ada. Ah! Aku dan khayalan masa kecilku.

Tak terasa itu adalah kenanganku akan 25 tahun yang lampau. Semua terasa bangkit kembali menjadi kenyataan. Aku tersenyum, berpikir kalau sekarang mana ada yang menyanyikan lagu-lagu gadis tersebut lagi. Lagu daerah, lagu anak-anak, atau lagu kebangsaan negara ini. Ah, mungkin memang gadis itu adalah peri dari nirwana yang tiba-tiba menghilang karena mesti kembali. Datang tak berapa lama untuk mengingatkan lagi lagu-lagu yang sebenarnya kita punya.

Di ujung hari itu, mobilku berhenti tepat di samping taman tempat gadis itu pernah biasa bernyanyi. Lampu lalu lintas menyala hijau. Segera aku menginjak gas menyusuri jalan raya, ditemani Alicia Keys yang menyanyikan Teenage Love Affair pada salah satu stasiun radio.

Setelah kupikir-pikir, gadis itu pastilah peri!

Biru

•Sabtu, 14 Juni 2008 • 2 Komentar

Hari ini kulihat langit biru

tapi tak sebiru hatiku padamu

Saat kau pergi

dari hatiku

tidak dari mata, telingaku

Adakah rasa itu?

Meski hanya rasa itu hanya berupa asa, asa, dan asa?

Kau bahkan tak sempat mengenalku,

dan aku bahkan tak mengenalmu

Biarkan diriku hatiku membiru, terus membiru, dan membiru

Rasa itu biru,

sebiru langit, lautan,

dan mungkin juga sebiru senyummu padaku